Apa Itu Meme Jomok? Mengenal Fenomena Humor Absurd yang Viral di Internet Indonesia

Apa Itu Meme Jomok? Mengenal Fenomena Humor Absurd yang Viral di Internet Indonesia
Apa Itu Meme Jomok? Mengenal Fenomena Humor Absurd yang Viral di Internet Indonesia (Sumber: X/Twitter)

MUHAMADQLI.COM - Kalau kamu cukup sering menjelajahi TikTok, Facebook, Instagram, X, YouTube, atau grup WhatsApp Indonesia, mungkin pernah menemukan meme yang terasa sangat aneh bagi orang yang tidak memahami konteksnya. 

Ada nama-nama seperti Mas Amba, Rusdi, Fuad, istilah “Ngawi”, berbagai plesetan kata, emoji kucing tertawa, sampai potongan video yang diedit berkali-kali hingga makna aslinya hampir hilang. Di antara pengguna internet tertentu, kumpulan humor semacam ini sering disebut sebagai meme jomok.

Jomok menarik dibahas karena fenomenanya sudah berkembang lebih jauh daripada satu gambar lucu. Penelitian akademik Indonesia bahkan mulai membahasnya sebagai fenomena komunikasi digital, semiotika, ras, gender, maskulinitas, hingga pembentukan identitas komunitas internet. 

Penelitian Sembiring dan Pratiwi yang terbit dalam Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia pada 2025, misalnya, menempatkan meme jomok sebagai fenomena yang berkaitan dengan representasi ras dan gender di media sosial.

Apa Itu Meme Jomok?

Dalam penggunaan bahasa internet Indonesia, “jomok” umumnya dijelaskan sebagai istilah yang berasal dari gabungan kata “jokes” dan “homok”, dengan kata kedua merupakan slang yang merujuk pada homoseksualitas. iNews menjelaskan istilah tersebut telah berkembang menjadi bahasa gaul yang digunakan dalam berbagai meme dan konten media sosial. 

Namun, pengertian jomok dalam praktiknya tidak berhenti pada arti harfiahnya. Ia berkembang menjadi sebuah gaya humor internet dengan karakter, kosakata, gambar, video, dan aturan tidak tertulis yang hanya benar-benar terasa lucu ketika kamu memahami referensinya.

Penelitian Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya terhadap stiker jomok di WhatsApp menunjukkan bahwa konten tersebut digunakan bukan hanya sebagai humor, tetapi juga sebagai sindiran dan ekspresi identitas sosial. 

Penelitian menggunakan semiotika Roland Barthes itu menemukan adanya lapisan makna mengenai maskulinitas dan homoseksualitas dalam stiker yang beredar. Artinya, satu gambar jomok yang bagi orang luar terlihat seperti foto random sebenarnya dapat membawa makna berbeda bagi komunitas yang sudah memahami “bahasa” meme tersebut.

Mengapa Humornya Terlihat Sangat Absurd?

Kunci memahami meme jomok adalah menerima bahwa kelucuannya sering justru berasal dari ketidakmasukakalan. Humor internet modern tidak selalu membutuhkan struktur lelucon konvensional berupa pembukaan, konflik, kemudian punchline. 

Kadang gambar yang tidak berhubungan dengan caption, suara yang sengaja dipotong, nama seseorang yang dipelesetkan, atau ekspresi wajah tertentu sudah cukup membuat komunitas tertawa. Semakin sering sebuah elemen digunakan, semakin banyak makna tambahan yang menempel padanya.

Karena itulah orang yang baru pertama kali melihat meme jomok mungkin bertanya, “Lucunya di mana?” Sementara orang yang sudah lama berada di dalam komunitas dapat langsung memahami referensinya. 

Penelitian terbaru oleh Andika Pratama bahkan menganalisis meme jomok melalui pendekatan multimodal dan konsep simulakra, menunjukkan bagaimana makna meme berkembang melalui kombinasi visual, teks, konteks sosial, dan reproduksi digital. Meme akhirnya mempunyai dunianya sendiri. Kelucuannya bukan hanya berada pada gambar, melainkan pada pengetahuan bersama antara pembuat dan penonton.

Dari Ricardo Milos hingga Munculnya Karakter-Karakter Baru

Sulit menentukan satu titik kelahiran meme jomok secara pasti. Bahkan penelitian mengenai fenomena tersebut mencatat bahwa asal-usulnya tidak sepenuhnya jelas dan terdapat beberapa versi mengenai perkembangannya. 

Salah satu figur yang sering ditempatkan dalam sejarah awal humor sejenis adalah Ricardo Milos, yang viral melalui berbagai editan internet. Penelitian Sembiring dan Pratiwi menghubungkan perkembangan fenomena jomok dengan viralnya konten Ricardo Milos sebelum muncul berbagai figur lain yang kemudian mendapatkan identitas baru di kalangan pengguna internet Indonesia.

Ada pula jalur perkembangan melalui figur internet yang kemudian diberi nama dan cerita baru oleh warganet Indonesia. Skripsi yang tersimpan di repositori UPN Veteran Jawa Timur, misalnya, mencatat adanya beberapa versi asal-usul, termasuk meme “Rehan Wangsaff” yang berasal dari video Philip Diby serta perkembangan meme yang berkaitan dengan Dreamybull. 

Hal tersebut menunjukkan karakter penting budaya meme: sumber asli dan versi meme dapat mempunyai kehidupan yang sama sekali berbeda. Setelah memasuki internet Indonesia, sebuah video asing dapat memperoleh nama lokal, lagu lokal, cerita baru, dan kepribadian fiktif yang tidak berhubungan dengan konteks awalnya.

Mas Amba dan Fenomena Lokalisasi Meme Internet

Salah satu karakter yang sangat dikenal dalam ekosistem jomok adalah “Mas Amba”. Nama tersebut merupakan identitas meme yang diberikan warganet Indonesia kepada figur internet asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai Dreamybull. 

Penelitian Sembiring dan Pratiwi mencatat bagaimana karakter Mas Amba kemudian memperoleh narasi tersendiri dalam komunitas meme Indonesia. Dalam sejumlah konten, ia bahkan digambarkan sebagai figur melankolis yang mengalami berbagai kejadian absurd atau menyedihkan.

Fenomena Mas Amba menarik karena menunjukkan proses lokalisasi meme. Internet memang global, tetapi humor tetap dapat menjadi sangat lokal. Nama asing dapat diubah menjadi nama yang terdengar Jawa. Suara berbahasa Inggris dapat didengar ulang sebagai kata bahasa Indonesia. 

Potongan video kemudian dipasangkan dengan musik lokal, cerita kehidupan kampung, atau percakapan sehari-hari. Hasil akhirnya terkadang begitu jauh dari sumber asli sehingga orang Indonesia mengenal versi meme terlebih dahulu sebelum mengetahui siapa figur sebenarnya. Inilah salah satu alasan meme jomok mempunyai daya hidup panjang: warganet tidak sekadar membagikan, tetapi terus menciptakan ulang.

Mengapa “Ngawi” Sering Muncul dalam Meme Jomok?

Kalau kamu memasuki bagian internet Indonesia yang dipenuhi meme semacam ini, nama Ngawi mungkin muncul secara mengejutkan. Kabupaten di Jawa Timur tersebut sebenarnya tidak mempunyai hubungan inheren dengan karakter-karakter meme asing tadi. 

Ngawi berubah menjadi bagian dari lore atau cerita internal komunitas. Penelitian mengenai meme jomok yang mewawancarai pengelola komunitas Sungut Lele mencatat bahwa penggunaan Ngawi berkembang sebagai bagian dari folklor yang diciptakan kreator komunitas, termasuk karena karakter-karakternya banyak diberi panggilan “Mas” yang diasosiasikan dengan nuansa Jawa.

Inilah mekanisme humor absurd bekerja. Sebuah tempat nyata dipindahkan ke dunia fiktif sampai akhirnya mempunyai makna baru. Pengguna lama memahami Ngawi bukan semata-mata sebagai wilayah administratif, tetapi sebagai bagian dari kosakata internal meme. 

Bagi masyarakat Ngawi sendiri tentu tidak berarti kehidupan nyata daerah tersebut berkaitan dengan isi meme. Pemisahan antara daerah nyata dan konstruksi humor internet penting dilakukan, karena sebuah nama geografis dapat berubah menjadi simbol digital tanpa persetujuan atau keterlibatan masyarakat yang tinggal di sana.

Emoji Kucing, Bahasa Pelesetan, dan Lahirnya Dialek Komunitas

Komunitas internet sering menciptakan bahasa sendiri. Dalam ekosistem jomok, pola tersebut terlihat melalui berbagai plesetan, salah dengar, penggunaan nama Jawa, istilah internal, dan emoji tertentu. Penelitian Sembiring dan Pratiwi menemukan bahwa emoji kucing tertawa digunakan sebagai salah satu bentuk identitas dan solidaritas komunitas. 

Beberapa istilah bahkan menurut informan penelitian muncul secara spontan tanpa perencanaan yang rumit, tetapi kemudian terus digunakan sampai menjadi kode bersama.

Fenomena tersebut sebenarnya tidak unik bagi jomok. Hampir semua komunitas digital memiliki kecenderungan membentuk inside jokes. Bedanya, komunitas jomok membawa mekanisme itu ke tingkat yang sangat absurd. Kata dapat sengaja salah dieja, suara asing diterjemahkan berdasarkan bunyi, dan karakter memperoleh nama yang sama sekali berbeda. 

Semakin lama seseorang berada di komunitas tersebut, semakin banyak “kamus tidak tertulis” yang dikuasainya. Akibatnya, satu emoji atau satu kata saja bisa menjadi punchline karena penonton sudah membawa puluhan referensi di kepalanya.

Mengapa Meme Jomok Bisa Viral di Indonesia?

Salah satu jawabannya adalah kemampuan meme untuk direproduksi dengan sangat mudah. Satu video dapat dipotong menjadi puluhan klip. Klip tersebut kemudian berubah menjadi GIF, stiker WhatsApp, video TikTok, reaction image, atau bahan remix. 

Pengguna berikutnya tidak harus memahami konteks asli untuk membuat variasi baru. Mereka hanya perlu memahami pola humor yang sedang populer. Dari sinilah tercipta siklus reproduksi yang hampir tidak berhenti.

Penyebarannya juga berlangsung lintas platform. iNews mencatat bahwa istilah dan konten jomok berkembang melalui berbagai media sosial dan aplikasi komunikasi. Sementara kajian akademik menunjukkan komunitas digital memainkan peran dalam membangun bahasa serta identitas di sekitar meme tersebut. 

Ketika sebuah meme berpindah dari Facebook ke TikTok, lalu menjadi stiker WhatsApp dan kembali muncul di Instagram, audiens baru terus menemukannya. Algoritma media sosial memperbesar proses tersebut karena konten yang menghasilkan interaksi tinggi mempunyai peluang lebih besar untuk kembali direkomendasikan.

Meme Jomok Juga Memiliki Sisi yang Perlu Dikritisi

Menyebut jomok sekadar “humor absurd” sebenarnya belum cukup. Sebagian kontennya bersinggungan dengan seksualitas, ras, tubuh, dan stereotip tertentu. Penelitian Sembiring dan Pratiwi secara khusus menganalisis meme jomok menggunakan perspektif interseksionalitas ras dan gender. Mereka menunjukkan bahwa meme tersebut kerap menampilkan laki-laki kulit hitam dengan tubuh berotot, maskulinitas yang dilebih-lebihkan, dan nuansa homoerotik.

Penelitian Pratama pada 2026 juga menempatkan sensitivitas dan perubahan norma sebagai persoalan penting dalam membaca fenomena ini. Artinya, sebuah meme bisa dianggap lucu oleh komunitas tertentu tetapi ofensif bagi kelompok lain. 

Humor tidak berada dalam ruang kosong. Ketika bahan lelucon menggunakan ras, orientasi seksual, atau identitas seseorang, selalu terdapat kemungkinan stereotip ikut direproduksi. Memahami konteks bukan berarti semua bentuk humor harus dilarang, tetapi pengguna internet perlu menyadari bahwa niat bercanda dan dampak sebuah candaan tidak selalu sama.

Mengapa Orang Luar Sering Tidak Mengerti Meme Jomok?

Bayangkan kamu masuk ke sebuah tongkrongan yang sudah berteman selama sepuluh tahun. Seseorang hanya mengatakan satu kata, lalu semua orang tertawa. Kamu bingung karena tidak mengetahui kejadian lima tahun lalu yang membuat kata tersebut menjadi lucu. 

Meme jomok bekerja dengan prinsip serupa, hanya skalanya jauh lebih besar. Ada sejarah karakter, nama panggilan, potongan audio, lagu, gambar, emoji, hingga cerita fiktif yang terus menumpuk.

Karena itu, semakin panjang umur suatu komunitas meme, semakin tinggi “biaya masuk” bagi orang baru. Inilah mengapa menjelaskan meme jomok terkadang justru membuat leluconnya kehilangan kelucuan. Humor tersebut bergantung pada pengenalan spontan terhadap referensi. 

Penelitian semiotika terhadap stiker jomok memperlihatkan bahwa gambar yang tampaknya sederhana dapat mengandung makna denotatif, konotatif, dan mitos budaya digital yang lebih luas. Meme pada akhirnya berfungsi seperti bahasa: kamu harus mempelajari sebagian kosakatanya sebelum dapat memahami percakapannya.

Dari Meme Receh Menjadi Fenomena Budaya Digital Indonesia

Hal paling menarik dari meme jomok sebenarnya bukan apakah meme tersebut lucu atau tidak. Selera humor selalu subjektif. Yang menarik adalah bagaimana sekelompok pengguna internet mampu mengambil potongan budaya global, mengubah namanya, memberikan cerita baru, menciptakan bahasa sendiri, kemudian menyebarkannya sampai menjadi subkultur digital yang dapat dikenali. 

Mas Amba, Ngawi, berbagai plesetan, emoji, dan karakter lainnya kemudian berfungsi seperti kepingan dari sebuah dunia fiktif kolektif.

Itulah sebabnya meme jomok mulai layak dipelajari secara akademis. Penelitian di Indonesia telah membacanya melalui semiotika, komunikasi, interseksionalitas, analisis wacana, dan budaya digital. Di balik sesuatu yang tampak seperti humor receh ternyata terdapat proses menarik mengenai bagaimana manusia membangun identitas kelompok, menciptakan bahasa, memodifikasi budaya global, dan menentukan batas antara lucu dengan ofensif. Meme jomok mungkin lahir dari absurditas internet, tetapi perjalanan dan transformasinya merupakan contoh nyata bagaimana budaya populer Indonesia bekerja pada era digital.

Muhamad Ali

Hello there! I'm Muhamad Ali, S.Tr.A.P., a passionate content creator, photographer, blogger, investor, trader and philanthropist based in Indonesia. Also known as Muhamadqli. Interested in my work? 🎨 Feel free to use my portfolio for editorial or commercial purposes. If you find it helpful, consider supporting through a donation 🤝. Every bit of support means a lot to me. Thank you! 🌟

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama